Berkata baik kepada orang-orang tua

Jelang Zhuhur kemarin, saat berjalan kaki menuju Masjidil Haram, lewat di samping saya sepasang orangtua, bersama menuju masjid juga. Usia mereka kira-kira 80 tahunan. Si nenek duduk di kursi roda dan si kakek yang mendorongnya. Saya berjalan agak santai sehingga saya pun tertinggal di belakang mereka.

Terlihat sang kakek agak tertatih mengendalikan kursi roda tersebut. Temperatur mencapai 50°C. Begitu banyak manusia yang bertolak ke tujuan yang sama tampak menghalangi jalannya. Berat kursi, dua roda, ditambah bobot istrinya yang kurus, mungkin sudah tidak ringan lagi bagi tangan tuanya.

Sesaat saya tertegun menatap kebersamaan mereka. Sekelebat pikiran saya teringat kepada kedua orangtua saya di tanah air yang sering ke berbagai majelis ilmu berdua, belajar agama maupun mengajar ngaji, demi mengisi pundi-pundi pahala di ujung usia mereka.

Saya pun mempercepat langkah agar bisa berjalan di samping mereka. Setelah berhasil mendekat dan memberi salam, saya pun menegur orangtua itu, “Mashriy (“orang Mesir” dalam aksen mereka)?” Saya yakin beliau orang Mesir. 6 bulan pertama kuliah di Riyadh dulu saya banyak bergaul dengan orang Mesir hingga bisa mengenali mereka dengan mudah, dari pakaian, wajah dan terutama bahasa dan aksen yang kadang saya pakai saat bicara dengan mereka.

Si kakek menoleh ke arah saya sambil menjawab, “Eih (“ya” dalam aksen Mesir).”

Saya pun berkata kepadanya, “

    Sawiyyan fil jannah in syaa Allah

(bersama di surga in syaa Allah),” sambil menunjuk ke badan keduanya secara bergantian.

In syaa Allah… in syaa Allah…,” jawab beliau.

Tampak beliau terharu dengan doa yang saya ucapkan. Wajah tua yang tadinya terlihat letih kepanasan berubah menjadi senyum lebar dengan mata berkaca-kaca. Beliau meraih tangan kanan saya, lalu memegang kepala saya, lantas mencium dahi saya. Banyak orang Mesir (atau mungkin orang Arab) yang punya adat mencium dahi untuk mengungkapkan terima kasih, maaf dan cinta.

Saya memang sengaja mengejar untuk mengatakan itu kepadanya. Di bulan Ramadhan, di tanah Haram, di bawah ikrar sebagai pencinta sunnah, saya berusaha mencari pahala dari hal-hal kecil (tapi sunnah) yang bisa saya lakukan, seperti mengucapkan kata-kata baik kepada orang-orang tua.

Saya yakin kata-kata itu akan menambah spirit kakek itu untuk terus mendorong alat bantu jalan istrinya. Mungkin mendengar apa yang saya ucapkan, beliau bertambah semangat, dorongannya terasa ringan, karena optimis bahwa perjalanan beliau dan istrinya in syaa Allah berakhir di jannah.

Demikian, semoga bisa menjadi inspirasi dan motivasi bagi diri pribadi dan pembaca untuk menebarkan ucapan baik, terutama kepada orangtua.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَعْرِفْ حَقَّ كَبِيْرِنَا وَيَرْحَمْ صَغِيْرَنَا
“Bukan bagian dari golongan kami orang yang tidak mengerti hak orang-orang tua kami dan tidak menyayangi anak-anak kecil kami.” (HR. At-Tirmidzi (1842), Abu Daud (4292), Ahmad (6640))

Beliau juga bersabda,
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Al-Bukhari (5994), Muslim (67))

Muflih Safitra
Ditulis di Masjidil Haram, sebagai upaya alternatif menghidupkan malam qadar, 25 Ramadhan 1438 H

🍭🍭➖➖➖
*Download murottal Muflih Safitra di playstore*
https://play.google.com/store/apps/details?id=com.batucamp.mobile.dzikir
🍭🍭➖➖➖

على الخير كفاعله
Orang yang menunjukkan kebaikan in syaa Allah mendapatkan pahala ditambah pahala orang yang mengikutinya.
Sebarkanlah.

-Web: muflihsafitra.com
-Telegram:
@muflihsafitrabalikpapan
-Facebook: Muflihsafitra.com
-Instagram: muflihsafitracom

Top