Dudukkan anak anda di Majelis Ilmu, kelak mereka jadi orang besar – Biidznillah

Saat dauroh di Sangatta minggu lalu, saya tertarik dengan seorang anak, kira-kira umurnya 9-10 tahun. Dia duduk menyimak penjelasan saya tentang pembagian riba dan komoditi riba. Kala mengevaluasi pemahaman hadirin dengan membuat kuis yang dijawab serempak, anak itu ikut menjawab layaknya orangtua, lantang tanpa malu.

Saya jadi teringat dahulu Bapak dudukkan saya di shaf jamaah saat beliau khutbah Jumat. Orangtua saya selalu mengajak saya duduk mendengar ceramah tarawih buka puasa keluarga, meskipun ustadz yang diundang berbicara dalam bahasa Bugis. Saya ikut tertawa saat orang dewasa tertawa, meskipun tak paham si penceramah bicara apa.

Saya konklusikan lebih awal: Harusnya demikian, orangtua mengajak anak mereka (khususnya yang sudah cukup besar) duduk di majelis ilmu dan tidak membiarkan mereka bermain dengan temannya.

Saya yakinkan pula bahwa anak yang terbiasa duduk di majelis ilmu kelak akan jadi orang besar di masa depan karena mereka matang lebih cepat, dewasa dalam berpikir dan terbiasa mencari ilmu, bekal mereka di masa yang akan datang.

Mari kita buktikan.

Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma di masa kecilnya sudah biasa diajak ayahnya, Umar bin Khaththab, duduk di majelis orang dewasa. Dia bercerita, bahwa suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya di antara pepohonan, ada pohon yang tidak gugur daunnya dan itulah permisalan orang mukmin. Ada yang bisa tebak itu pohon apa?” Ibnu Umar mengatakan, “Para sahabat dewasa menebak itu adalah pohon di lembah. Aku menebak itu pohon kurma tapi aku diam karena malu. Saat pulang, kukatakan kepada ayahku tentang benarnya tebakanku. Maka ayah mengatakan, dia akan senang kalau tadi aku ikut menebaknya.” (diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim)

Lihat Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Beliau sahabat kecil yang menjadi anggota dewan permusyawaratan Umar bin Khaththab saat masih belia. Padahal anggota dewan lainnya adalah sahabat-sahabat senior yang ikut perang Badar. Sampai pernah ada yang protes, mengapa anak seumur dia menjadi anggota dewan, hingga Umar pun menguji semua anggota dewannya, dengan tafsir surat An-Nashr. Tidak ada yang mampu menjawab dengan benar kecuali Abdullah bin Abbas. (diriwayatkan Al-Bukhari)

Anda ketahui bahwa Abdullah bin Umar dan Abdullah bin Abbas adalah termasuk sahabat yang besar dalam keilmuannya, meskipun usianya masih belia.

TANTANGAN DAN JAWABAN
Sebagian orangtua beranggapan sulit mengajak anak duduk kajian karena mereka akan terpancing oleh temannya untuk bermain jika bertemu. Di ujung tulisan ini saya jawab:
-Itu karena mindset Anda dari awal mengatakan sulit. Padahal belum tentu jika dicoba.
-Buatlah kesepakatan dan kerjasama antara Anda dan orangtua lainnya untuk sama-sama mengajak anak mereka duduk terpisah dan mendengarkan ilmu.
-Minta agar ustadz pengisi bisa membantu mengkondisikan anak-anak duduk dengan tenang, misalnya membuat kuis khusus untuk anak-anak terkait materi yang telah disampaikan.

Semoga kelak anak Anda jadi orang besar…
__________________________
Muflih Safitra | Balikpapan
-Website: muflihsafitra.com
-Telegram:
@muflihsafitrabalikpapan
@murottaljuz30
@dzikirmuflihsafitra
-Youtube:
http://youtube.com/muflihsafitra
-Facebook: Muflihsafitra.com
-Instagram: muflihsafitracom

Top