Hukum menggunakan (Redeem) reward point dari bank untuk dapatkan diskon beli tiket pesawat, pizza, dll

Penulis memulai tulisan ini dengan doa agar pembaca (terutama yang belum pernah) agar bisa haji dan (atau) umroh. Bila sudah pernah, semoga bisa berangkat lagi.

Selanjutnya…

Sering kita dapati iklan yang kurang lebih isinya begini:
– Untuk Anda nasabah Bank Anu, gunakan poin Anda saat pembayaran di kasir dan dapatkan diskon pizza hingga 30%.
– Gunakan kartu ATM Anda untuk belanja disini dan raih reward point sekian untuk mendapatkan potongan belanja 25%.
– Diskon 100,000 untuk pembelian tiket pesawat ke semua tujuan bagi nasabah Bank Anu.
– dll.

Bagaimana hukum menggunakan reward point untuk dapatkan potongan harga (diskon) seperti dalam contoh iklan di atas?

Telah berlalu penjelasan penulis tentang bahwa nasabah bank sejatinya sedang mengutangkan uang yang dia tabung dan bukan menyimpan/menitipkannya.
Mengapa demikian? Silakan baca artikel ini:

Ke Bank itu mengutangkan uang, bukan menitipkan!

Setelah memahami hal di atas, maka berikutnya kita harus pegang kaidah yang berbunyi:
كُلُّ قَرْضٍ جَرَّ نَفْعًا فَهُوَ رِبَا
“Utang piutang yang mengambil keuntungan adalah riba.”
Begitu pula kita harus meyakini riba itu haram, dengan dalil yang banyak dari Al-Qur’an dan sunnah.

Menggabungkan semua hal di atas: (1) Nasabah mengutangi bank, (2) manfaat dari utang adalah riba dan (3) riba itu haram, maka bisa disimpulkan bahwa menggunakan reward point untuk dapatkan potongan harga (diskon) *hukumnya haram*.

MENGGUNAKAN​ POIN YANG DIMILIKI UNTUK DAPATKAN DISKON, LALU MENYALURKANNYA KEPADA FAKIR MISKIN SEBESAR DISKON YANG DIDAPAT

Sebagian pemerhati muamalah syar’iyyah ada yang mengatakan bahwa reward point bisa digunakan untuk mendapatkan diskon, namun uang sebesar diskon tersebut disalurkan untuk fakir miskin. Alasannya, jika dibiarkan dan tidak digunakan, maka akan memperkaya bank.

Akan tetapi pendapat yang lebih tepat adalah bahwa itu tidak diperbolehkan.

Alasannya, menggunakan poin tersebut sedari awal adalah muamalah riba yang diharamkan, meskipun menyalurkannya​ untuk fakir miskin membawa mashlahat yang datang belakangan.
Sementara ada kaidah fiqih yang berbunyi:
دَرْءُ الْمَفَاسِدِ مُقَدَّمٌ عَلَى جَلْبِ الْمَصَالِحِ
“Menghindari kerusakan lebih didahulukan daripada mengambil kemashlahatan.”
Penulis telah menanyakan hal ini kepada Syaikh Saad Asy-Syatsri _hafizhahullah_ di hotel beliau di depan Masjidil Haram, malam 29 Ramadhan 1438 kemarin.

Penulis mengatakan, “Menggunakan reward point untuk meraih​ diskon dari restoran atau maskapai penerbangan adalah riba. Bolehkah menggunakannya dan diskonnya diberikan kepada fakir miskin?”

Beliau menjawab, “Tidak boleh. Apakah engkau (tega) menyengaja mengambil riba lalu kau berikan kepada fakir miskin?”

Semoga bermanfaat.
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
*MUFLIH SAFITRA*
Hari terakhir di Makkah untuk Ramadhan tahun ini. Semoga Allah mempertemukan kita lagi dengan Ramadhan tahun depan dan bisa merasakan puasa di tanah suci. Amin.

-Web: muflihsafitra.com
-Telegram:
@muflihsafitrabalikpapan
-Facebook: Muflihsafitra.com
-Instagram: muflihsafitracom

Top