Ini kata Syaikh Saad Asy-syatsri tentang jual beli dan i’tikaf di masjid perusahaan atau kantor (non-wakaf)

Telah berlalu tulisan ana tentang larangan jual beli dan sunnahnya shalat tahiyyatul masjid dan i’tikaf di masjid pemerintah/perusahaan/perumahan. Silakan baca kembali di : Jual beli tahiyyatul masjid dan itikaf di masjid pemerintah perusahaan atau perumahan non wakaf/

Semalam, 28 Ramadhan 1438 H, Allah mengizinkan ana, Ustadz Abdurrahman Hamzah (Solo), Ustadz Haris (Aceh) dan Ustadz Mundzir (Bandung) bertemu Syaikh Saad Asy-Syatsri hafizhahullah (anggota Haiah Kibaril Ulama) di tempat menginap beliau di depan Masjidil Haram. Kami menanyakan ulang permasalahan yang telah ana tulis di atas.

Muflih:
(Penulis membacakan teks pertanyaan tertulis dalam bahasa Arab) Di Indonesia terdapat masjid-masjid yang dibangun di dalam perusahaan, perkantoran dan sekolah. Masjid-masjid tersebut dibangun dengan bangunan tersendiri, bukan ruangan yang menjadi pengikut sebuah bangunan yang biasa kita sebut musholla. Jadi bangunannya memang bangunan masjid. Hanya saja, masjid-masjid ini dibangun oleh sebagian perusahaan karena tuntutan peraturan yang memerintahkan mereka untuk membangun masjid. Perusahaan tidak mengatakan dengan tegas bahwa itu waqaf, melainkan menyebutnya dengan nama masjid milik perusahaan A, masjid kantor B.
Apakah masjid demikian berlaku di dalamnya hukum-hukum masjid?

Syaikh:
Itu masjid. Namun muaqqat (temporary). Kapanpun mereka mau, mereka bisa robohkan.

Muflih:
Bolehkah i’tikaf di dalamnya?

Syaikh:
Bisa.

Muflih:
(Dan) jual beli?

Syaikh:
Terlarang.

Mundzir:
Apakah masjid yang tidak diwakafkan boleh i’tikaf di dalamnya? Ada yang mengatakan (tentang) firman Allah​:
وَأَنَّ ٱلۡمَسَٰجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدۡعُواْ مَعَ ٱللَّهِ أَحَدٗا
“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah.” (QS. Al-Jinn: 18)
Artinya ahkam masjid tersebut berlaku apabila masjidnya adalah lillah (wakaf).

Syaikh:
Jika seseorang menyewa tempat untuk masjid maka telah dia meletakkannya lillah (untuk Allah) dan dia boleh i’tikaf di dalamnya. Allah berfirman:
وَلا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عاكِفُونَ فِي الْمَساجِدِ
“Janganlah engkau menggauli mereka sementara engkau i’tikaf di dalam masjid.” (QS. Al-Baqarah: 187)
(Dan lafazh masjid disitu umum -pen)

Pertemuan berakhir di depan lift saat qiyamullail kedua (jam 00.45) sudah dimulai.

Masjidil Haram, 28 Ramadhan 1438 H
Muflih Safitra

-Web: muflihsafitra.com
-Telegram:
@muflihsafitrabalikpapan
-Facebook: Muflihsafitra.com
-Instagram: muflihsafitracom

Top