Jangan cela saudaramu yang ngobrol, pegang HP & bikin kajian saat I’tikaf. Apalagi kalau…

Betul, Nabi membuat kemah pribadi saat i’tikaf.
Tapi itu bukan dalil bolehnya mencela (dengan mudahnya) orang ngobrol saat i’tikaf.

Betul, kebanyakan main HP, Facebook, WA, grup-grup dan internet itu bisa memalingkan kita dari membaca Al-Qur’an.
Tapi itu bukan dalil bolehnya kita mencerca peserta i’tikaf yang dari kejauhan kita lihat memegang HP mereka.

Betul, para ulama salaf menutup kajian-kajian mereka terutama di 10 hari terakhir Ramadhan.
Tapi itu bukan dalil bolehnya kita mencibir panitia dan asatidzah yang menyelenggarakan kajian subuh/tarawih dalam i’tikaf, apalagi asatidzah yang meninggalkan tempat i’tikaf untuk pergi khutbah Jum’at.

Semua itu bukan dalil (qath’i) yang melarang hal-hal tadi secara mutlak. Karenanya, hal-hal tersebut perlu ditimbang bukan dengan perasaan pribadi, tapi derajat kepentingan yang dipandang oleh yang bersangkutan.

Orang beri’tikaf juga tetap sahur dan berbuka. Kadang mereka makan berjamaah 1 nampan. Sesekali mereka ngobrol dan beramah-tamah saat itu. Asalkan tidak terlalu berlama-lama hingga menghabiskan waktu untuk pembicaraan tanpa guna, maka itu sebenarnya boleh saja, tidak semua harus diam tanpa bicara. Banyak di tempat kami orang yang pasca Ramadhan ngaji salaf setelah melihat ramahnya sesama peserta i’tikaf.

Sebagian penyelenggara i’tikaf juga merangkap panitia shalat Id. Mereka mengadakan rapat saat i’tikaf guna memfixkan berbagai kebutuhan Id. Mereka lebih berhak didoakan jazahumullah khairan ketimbang mendapat celaan karena ngobrol setelahnya.

Ada kalanya seseorang butuh bertanya & menjawab masalah agama, mencari artikel agama yang dibutuhkan, menulis artikel yang mungkin mencerahkan banyak orang, menanyakan kondisi keluarga di rumah ketika ditinggal i’tikaf, semua dilakukan dengan HP-nya.
Itu pun sebenarnya tidak boleh dicela karena kebutuhan kita, satu dengan lainnya berbeda-beda dan tidak bisa dipukul rata.

Begitu pula dengan asatidzah.
Sebagian mereka tidak bisa meninggalkan kajian apalagi khutbah Jum’at karena memang kebutuhan masyarakat.
Jika asatidzah semua i’tikaf dan tidak ada yang keluar, maka disana ada banyak du’at yang tidak bermanhaj salaf akan menguasai mimbar Jum’at dan menebarkan syubuhat.

Akhirnya, penulis hanya bisa mengingatkan:
– Di 10 hari terakhir bulan Ramadhan ini lebih baik kita sibuk dengan diri dan amalan sendiri daripada orang lain.
– Amalan kita belum tentu menyamai orang lain dalam kualitas dan kuantitasnya.
– Di antara bentuk sombong adalah meninggikan amalan pribadi dan merendahkan amalan orang. Misalnya mengatakan, “Kasihan mereka, kurang hidayah. Makanya sepanjang i’tikaf banyak ngobrol dan main HP. Tidak seperti aku yang sibuk membaca Al-Qur’an. Kasihan Ustadz itu, keluar masuk masjid untuk ngisi kajian. Tidak seperti aku yang i’tikaf full tanpa keluar.”
Ibnul Qayyim Al-Jauziyah berkata,
وإنَّك أن تَبِيتَ نائمًا وتصبح نادمًا خيرٌ مِن أن تَبِيتَ قائمًا وتصبح مُعْجَبًا؛ فإنَّ المعْجَب لا يَصْعَد له عملٌ
“Sesungguhnya engkau tidur di malam hari (tanpa ibadah) dan menyesal saat bangun di pagi hari lebih baik daripada engkau beribadah di malam hari lalu membanggakannya di pagi hari.
Sesungguhnya amalan orang yang membanggakan dirinya tidak terangkat ke sisi Allah.”

(Madarijus Salikin: 1/177)
– Lebih dari itu, jangan cela i’tikaf saudaramu dengan segala kekurangannya, apalagi kalau ternyata engkau sendiri justru sibuk dengan dunia & hanya berkomentar dari luar masjid.

Ayo balik ke bilik.
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
Orang yang menunjukkan kebaikan in syaa Allah mendapatkan pahala ditambah pahala orang yang mengikutinya.
Sebarkanlah.

Masjidil Haram, 21 Ramadhan 1438 H
Muflih Safitra

-Web: muflihsafitra.com
-Telegram:
@muflihsafitrabalikpapan
-Facebook: Muflihsafitra.com
-Instagram: muflihsafitracom
[3:57 AM, 6/17/2017] Ustadz muflih: JANGAN CELA SAUDARAMU YANG NGOBROL, PEGANG HP & BIKIN KAJIAN SAAT I’TIKAF, APALAGI KALAU…
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

Betul, Nabi membuat kemah pribadi saat i’tikaf.
Tapi itu bukan dalil bolehnya mencela (dengan mudahnya) orang ngobrol saat i’tikaf.

Betul, kebanyakan main HP, Facebook, WA, grup-grup dan internet itu bisa memalingkan kita dari membaca Al-Qur’an.
Tapi itu bukan dalil bolehnya kita mencerca peserta i’tikaf yang dari kejauhan kita lihat memegang HP mereka.

Betul, para ulama salaf menutup kajian-kajian mereka terutama di 10 hari terakhir Ramadhan.
Tapi itu bukan dalil bolehnya kita mencibir panitia dan asatidzah yang menyelenggarakan kajian subuh/tarawih dalam i’tikaf, apalagi asatidzah yang meninggalkan tempat i’tikaf untuk pergi khutbah Jum’at.

Semua itu bukan dalil (qath’i) yang melarang hal-hal tadi secara mutlak. Karenanya, hal-hal tersebut perlu ditimbang bukan dengan perasaan pribadi, tapi derajat kepentingan yang dipandang oleh yang bersangkutan.

Orang beri’tikaf juga tetap sahur dan berbuka. Kadang mereka makan berjamaah 1 nampan. Sesekali mereka ngobrol dan beramah-tamah saat itu. Asalkan tidak terlalu berlama-lama hingga menghabiskan waktu untuk pembicaraan tanpa guna, maka itu sebenarnya boleh saja, tidak semua harus diam tanpa bicara. Banyak di tempat kami orang yang pasca Ramadhan ikut kajian salaf setelah melihat ramahnya sesama peserta i’tikaf.

Sebagian penyelenggara i’tikaf juga merangkap panitia shalat Id. Mereka mengadakan rapat saat i’tikaf guna memfixkan berbagai kebutuhan Id. Mereka lebih berhak didoakan jazahumullah khairan ketimbang mendapat celaan karena ngobrol setelahnya.

Ada kalanya seseorang membaca Al-Qur’an dari HP-nya, butuh bertanya & menjawab masalah agama, mencari artikel agama yang dibutuhkan, menulis artikel yang mungkin mencerahkan banyak orang, menanyakan kondisi keluarga di rumah ketika ditinggal i’tikaf, semua dilakukan dengan HP-nya.
Itu pun sebenarnya tidak boleh dicela karena kebutuhan kita, satu dengan lainnya berbeda-beda dan tidak bisa dipukul rata.

Begitu pula dengan asatidzah.
Sebagian mereka tidak bisa meninggalkan kajian apalagi khutbah Jum’at karena memang kebutuhan masyarakat.
Jika asatidzah semua i’tikaf dan tidak ada yang keluar, maka disana ada banyak du’at yang akan menguasai mimbar Jum’at dan menebarkan syubuhat.

Akhirnya, penulis hanya bisa mengingatkan:
– Di 10 hari terakhir bulan Ramadhan ini lebih baik kita sibuk dengan diri dan amalan sendiri daripada orang lain.
– Amalan kita belum tentu menyamai orang lain dalam kualitas dan kuantitasnya.
– Di antara bentuk sombong adalah meninggikan amalan pribadi dan merendahkan amalan orang. Misalnya mengatakan, “Kasihan mereka, kurang hidayah. Makanya sepanjang i’tikaf banyak ngobrol dan main HP. Tidak seperti aku yang sibuk membaca Al-Qur’an. Kasihan Ustadz itu, keluar masuk masjid untuk ngisi kajian. Tidak seperti aku yang i’tikaf full tanpa keluar.”
Ibnul Qayyim Al-Jauziyah berkata,
وإنَّك أن تَبِيتَ نائمًا وتصبح نادمًا خيرٌ مِن أن تَبِيتَ قائمًا وتصبح مُعْجَبًا؛ فإنَّ المعْجَب لا يَصْعَد له عملٌ
“Sesungguhnya engkau tidur di malam hari (tanpa ibadah) dan menyesal saat bangun di pagi hari lebih baik daripada engkau beribadah di malam hari lalu membanggakannya di pagi hari.
Sesungguhnya amalan orang yang membanggakan dirinya tidak terangkat ke sisi Allah.” (Madarijus Salikin 1/177)
– Lebih dari itu, jangan cela i’tikaf saudaramu dengan segala kekurangannya, apalagi kalau ternyata engkau sendiri justru sibuk dengan dunia & hanya berkomentar dari luar masjid.

Ayo balik ke bilik.
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
Orang yang menunjukkan kebaikan in syaa Allah mendapatkan pahala ditambah pahala orang yang mengikutinya.
Sebarkanlah.

Masjidil Haram, 21 Ramadhan 1438 H
Muflih Safitra

-Web: muflihsafitra.com
-Telegram:
@muflihsafitrabalikpapan
-Facebook: Muflihsafitra.com
-Instagram: muflihsafitracom

Top