Ke Bank itu mengutangkan uang, bukan menitipkan!

Seringkali dalam kajian muamalah seputar riba perbankan, penulis berkata kepada hadirin, “Isilah titik-titik berikut ini dengan kata yang sesuai! Antum ke bank bawa uang untuk…titik-titik. Pilih! A. Dititipkan; B. Dibuang; C. Diutangkan. Mana yang benar?” Seperti yang sudah bisa diduga, hadirin rata-rata memilih pilihan A.

Pembaca perlu memahami bahwa kebanyakan masyarakat awam menolak haramnya riba dalam perbankan lantaran salah memilih jawaban di atas. Mari kita kembali ke definisi kata “titip” dan “utang” dalam fiqih Islam.

Titip (al-wadii’ah) didefinisikan sebagai berikut:
الْوَدِيعَةُ عِبَارَةٌ عَنْ تَوَكُّلٍ لِحِفْظِ مَالِ غَيْرِهِ تَبَرُّعًا بِغَيْرِ تَصَرُّفٍ
“Titip adalah istilah untuk menggambarkan penyerahan kuasa atas penjagaan suatu barang (harta) milik orang lain secara sukarela tanpa dipergunakan.” (Al-Inshaf ma’a Al-Muqni’ wa Asy-Syarh Al-Kabiir jilid 16 hal. 5)

Adapun utang (al-qardh) didefinisikan sebagai berikut:
الْقَرْضُ عِبَارَةٌ عَنْ دَفْعِ مَالٍ إلَى الْغَيْرِ لِيَنْتَفِعَ بِهِ وَيَرُدَّ بَدَلَهُ
“Utang adalah istilah untuk menggambarkan penyerahan harta (uang) kepada orang lain untuk dimanfaatkan lalu dia kembalikan harta tersebut dengan penggantinya.” (Al-Inshaf ma’a Al-Muqni’ wa Asy-Syarh Al-Kabiir jilid 13 hal. 323. Lihat juga Tuhfah Al-Muhtaaj 19/182, Asy-Syaamilah)

Berdasarkan definisi di atas, maka jelaslah perbedaan titip dan utang, yaitu:
(1) Titip itu untuk dijaga dan tidak digunakan, sedangkan utang untuk dimanfaatkan.
Contohnya menitipkan dompet dan isinya saat akan berenang di laut. Dompet dan uangnya hanya dijaga, bukan digunakan. Berbeda dengan orang utang untuk membayar tagihan rumah sakit.
(2) Titip akan mengembalikan barang yang sama, sedangkan utang akan mengembalikan barang semisal, bukan yang itu juga. Contohnya ketika kita akan safar dan menitipkan motor dengan nopol KT 1234 AZ kepada tetangga untuk dijaga, maka sepulang safar kita akan mengambil motor dengan nomor yang sama.

Dengan demikian, ketika seseorang datang ke bank membawa uang untuk dimasukkan ke rekening, sejatinya dia sedang mengutangkan uang tersebut kepada bank, bukan menitipkannya. Alasannya:
(1) Bank menggunakan uang yang diserahkan nasabah untuk usahanya.
(2) Bank mengembalikan uang semisal namun bukan uang yang sama (berbeda nomor serinya).

Jika ke bank adalah mengutangkan uang dan bukan menitipkan, sementara ada kaidah yang berbunyi “utang piutang yang mengambil keuntungan adalah riba” padahal riba itu haram, maka pembaca akan tahu hukum menerima bunga atau bagi hasil dari bank, berlabel syariah sekalipun.
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

Download murottal Ustadz Muflih Safitra di playstore
https://play.google.com/store/apps/details?id=com.batucamp.mobile.dzikir

-Web: muflihsafitra.com
-Telegram:
@muflihsafitrabalikpapan
-Facebook: Muflihsafitra.com
-Instagram: muflihsafitracom

Top