Memamng tidak ada أ, س, ت, ا, ذ di dahi mereka

Cerita ustadz-ustadz disangka…

Alkisah nyata, saat jamaah haji 1432 H (2011 M) sedang wukuf di Arafah, sekelompok asatidzah pembimbing haji, yang semuanya merupakan mahasiswa salah satu kampus di Saudi, berkumpul bersama makan dari satu nampan. Karena besarnya nampan dan banyaknya makanan, maka seorang ustadz *mahasiswa magister Syari’ah* memanggil jamaah (sebut saja Agus) untuk ikut makan bersama. Agus adalah *seorang mahasiswa* Universitas Islam Madinah (UIM).

Karena badan Agus terlihat kurus (mungkin dia masih muda, mahasiswa baru dan belum nikah), maka seorang ustadz *mahasiswa doktoral Syari’ah* yang berbadan gemuk pun berkata, “Makan yang banyak Akh, supaya antum sehat.”

Si Agus pun berseloroh, “Kalau saya kurus karena kan mahasiswa Pak. Antum gemuk karena antum sopir (TKI sopir)”

Ibarat kartun, mungkin semua asatidzah yang makan di nampan itu ada airnya jatuh di pinggir kepala (😅😅😅).

Setelah diam sejenak, maka ustadz magister pun bertanya, “Berapa sekarang harga makan di _math’am jami’ah_ (kantin kampus)?” Agus menjawab, “Kami kalau makan pakai kartu. Sudah disubsidi pemerintah Saudi. Bayar sekian, ambil sekian item.”

Ustadz doktoral yang dikira sopir pun menyahut, “Kita dulu harganya sekian ambil sekian item.” Melihat Agus terbengong heran, beliau melanjutkan, “Kami dulu S1 di Madinah juga, tahun 1995.” Ustadz lain pun memperkenalkan diri, “Kami dari kampus anu. Ini ustadz S2, yang sopir ini S3.”
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Alkisah lain, kemarin di dauroh Pekanbaru bersama Syaikh Abdurrazzaq, duduklah seorang ustadz (sebut saja namanya Adi) di sebelah ustadz yang mungkin semua orang ngaji se-Indonesia kenal beliau (Boy, bukan nama sebenarnya).

Ketika keduanya sedang ngobrol penting, tiba-tiba sejumlah ikhwan dari daerah anu datang *menyelonong memotong pembicaraan*. “Ustadz, assalamu’alaikum. Wah sudah lama kita mau ngundang ustadz ke anu…anu…anu…,” kata salah seorang dari mereka kepada ustadz Boy yang terkenal itu.

Tiba-tiba datang jamaah lain. *Sambil setengah memegang pundak dan setengah menarik baju Ustadz Adi*, dia berkata kepada beliau, “Antum siapa? Peserta atau bukan?” Ustadz Adi bengong, membisu. Ustadz Boy berkata, “Ini Ustadz Adi dari daerah anu.” “Oh, afwan.” kata jamaah tersebut.
Mereka pun ramai-ramai mengarak Ustadz Boy untuk diajak makan bersama dan meninggalkan Ustadz Adi.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Masih di dauroh Pekanbaru, seorang jamaah (Bagus misalnya) hendak menempati shaf yang kosong, bersebelahan dengan Ustadz (sebutlah Hamid). Jamaah lain disitu (katakan Bambang) berkata kepada Bagus, “Berdiri disitu saja. Biar nanti orang ini yang ke belakang (sambil mengisyaratkan ke Ustadz Hamid).”
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Mungkin tidak jadi begitu kalau di dahi asatidzah ada hamzah, siin, taa’, alif dan dzal. Tapi itu tidak perlu. Nanti ustadznya dikira kurang waras.

Kitanya sajalah…
Perlu mencoba lebih menghormati orang lain, siapapun, tidak harus Ustadz, dalam interaksi di dunia nyata.
_____________________
VICO-MUARA BADAK
Muflih Safitra

Top