Mengkoordinir Pengumpulan Uang Riba Untuk Kepentingan Islam dan Memudahkan Penyalurannya

Terdapat perbedaan pendapat di antara para ulama tentang masalah yang tersebut dalam judul.

Penulis pernah menanyakan hal ini kepada Syaikh Saad Al-Khtoslan hafizhahullah (info terakhir yang penulis dapat, beliau tidak lagi menjadi anggota Haiah Kibar Ulama).
Dalam sesi tanya jawab kajian Umdatul Ahkam beliau, 10 Dzulqo’dah 1434 H di Riyadh, penulis bertanya:
“Sebagian ulama memfatwakan bolehnya menggunakan harta yang didapat dari jalan riba, seperti bunga bank, untuk kepentingan umum (seperti membangun masjid, jalan umum, dll). Lalu bagaimana jika ada salah satu lembaga atau organisasi yang di antara programnya adalah mengumpulkan uang riba dalam rangka memudahkan orang-orang yang ingin takhallush (berlepas diri) dari uang riba (dan memudahkan penyalurannya)?”
Beliau menjawab:
“Diperintahkan bagi kita yang ingin bertaubat dari riba, untuk berlepas diri darinya dengan menyalurkannya untuk kepentingan umum, dengan sekedar niat takhallush (melepaskan diri), bukan niat sedekah. Namun, ini dalam skema individu. Jika diorganisir oleh lembaga/organisasi tertentu, maka ini justru seakan-akan memotivasi orang untuk tetap bermuamalah dengan riba (lantas menyalurkan ribanya dengan mudah hingga lama kelamaan menganggapnya perkara ringan), sementara Islam mendorong untuk lepas total dari riba karena riba dosa besar. Jadi tidak selayaknya untuk mengakomodir dan menjadikan pengumpulan dana riba sebagai program yang dijalankan secara terorganisir.”

Akan tetapi sebagian ulama mengatakan (islamweb):
“Mengumpulkan dana riba dari orang yang ingin bertaubat dan berlepas diri dana riba adalah tidak mengapa, karena dana tersebut bisa dikeluarkan untuk berbagai jalan kebaikan. Disamping sebagian orang memang butuh penyaluran dana riba tadi. Hanya saja hendaknya mereka diberi penjelasan bahwa dana riba tetap haram dan diharuskan untuk bertaubat dan berlepas diri darinya.”
_________________________
Muflih Safitra | Makkah 14-12-16

Top