SIAPA MEREKA YANG DUDUK DI KAJIAN (SALAF) DAN BIKIN MASJID TIDAK NYAMAN?

“Huh, sejak ada kajian mereka masjid jadi tidak nyaman.”
Keluhan ini kerap kami dengar dari sebagian masyarakat (tidak semua) khususnya yang tinggal di komplek perumahan berbonus masjid. Ada apa gerangan?

Ada kajian, namanya kajian Salaf, yang di berbagai daerah membuat masjid perumahan menjadi padat dengan datangnya kaum muslimin dari berbagai penjuru kota, membuat sebagian individu yang rutin shalat disitu menjadi merasa ‘susah mendapatkan tempat di masjid sendiri’. Memang tidak semua kajian Salafi, tapi banyak yang demikian. Penduduk komplek kadang terpaksa shalat di teras bahkan tangga masjid. Tak jarang mereka harus sujud di atas sajadah tambahan yang digelar di halaman. Sebagian mereka lebih memilih pindah masjid meskipun sepi, dengan alasan mencari ketenangan. Sebagian lagi berusaha dengan cara apapun agar kajian tersebut dihentikan.

1⃣ Apa itu kajian Salaf?

Pembaca bisa mendapatkan keterangan lebih jelas, rinci dan (yang terpenting) valid dari buku tipis seukuran buku tulis berjudul AL-FIRQOH AN-NAJIYAH karya Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu (dahulu pengajar Masjidil Haram). Penulis mengajarkannya sampai tamat dalam kurun 2014-2015 di Balikpapan. Pembaca bisa menonton rekaman video kajiannya di https://www.youtube.com/muflihsafitra. Silakan, jika ingin cari kebenaran.

2⃣ Mengapa bisa penuh?

Apa yang menarik? Ada trik khusus untuk meng-grab jamaah? Pertanyaan ini lebih objektif bila dijawab oleh mereka yang datang kajian, karena merekalah yang ‘katanya’ bikin masjid sumpek tidak nyaman. Di bagian ketiga akan sedikit dipaparkan.

3⃣ Siapa mereka yang hadir memadati masjid?

Yang pasti orang-orang itu bukan anggota kajian Salafi. Pasalnya, Salafi itu bukan organisasi atau partai yang perlu kartu anggota untuk dikatakan ‘bagian’ dari mereka. Untuk mengikuti kajian Salafi di masjid-masjid tidak ada formulir pendaftaran.

Di sisi lain, kajian Salafi itu bebas diikuti siapa saja, tanpa paksaan tanpa halangan. Maklum, mereka meyakini bahwa kajian-kajian tertutup/tersembunyi yang tidak bisa diakses sembarangan, bisa diikuti bila telah berbai’at dengan sang ustadz, justru berada di tepi jurang kesesatan. Ujarnya, bukankah ilmu agama harusnya bisa didengar oleh siapa saja, jika yang mendakwahkan merasa di atas kebenaran?

Jadi siapa mereka yang meramaikan masjid masyarakat dan katanya bikin sumpek itu?

Yah, sulit juga menjawabnya. Masalahnya, kebanyakan mereka yang duduk di kajian Salaf justru tidak dikenal oleh ustadz pengisinya. Mereka datang sendiri, dengan keluarga, atau dengan teman.

Penulis pernah dengar, ada hadirin sebenarnya berencana cuma shalat lalu pulang. Akhirnya terpaksa duduk karena kendaraan terjebak di parkiran. Anehnya, setelah mendengar sebentar, kok rasanya beda di telinga. Ustadznya ada landasan dalam bicara baik dari Al-Qur’an, hadits maupun referensi ulama. Bahkan ustadz pengisinya mengatakan, “Jangan bicara tanpa ilmu. Jika tidak tahu, tanya kepada yang tahu. Jangan tafsir ala diri sendiri kalau kita bukan pakarnya.”

Waktu itu tidak sengaja, tapi jadi agenda rutin setelahnya.

Di kajian Salaf itu banyak anak muda. Dengar-dengar mereka baru tinggalkan panggung musik dan band menuju hidup Islami yang lebih punya tujuan. Ex-gitaris mengajak vokalis, ex-vokalis menggandeng drummer, sampai MC event-nya pun ikutan. Berat tapi nyata, dari kajian Salafi-lah mereka dapat inspirasi untuk total meninggalkan musik, bukan sekedar ganti aliran dan kostum, dari metal/pop/rock menjadi gitaris berpeci. Tidak seperti kajian ‘sebelah’ yang da’inya justru menutup daurohnya dengan petikan gitar dan lagu 90an.

Ada pula mantan bintang film atau sinetron. Mendengar kajian Salaf mereka seperti mendapatkan charge iman untuk meninggalkan dunia mereka yang penuh kemaksiatan. Katanya, “Alhamdulillah hidayah datang, meskipun agak heran. Kita undur dari layar sinema, ustadz kajian tetangga malah jadi aktor film lantaran dia yang tulis novelnya. Kita tinggalkan campur baur laki perempuan non mahram di kalangan sesama bintang dan kru film, mereka malah masuk dalam pusaran ikhtilath yang diharamkan.”

Banyak juga hadirin yang sudah beruban. Katanya ingin cari ilmu dan pahala di hari tua, karena tidak ada kata terlambat bila untuk kebaikan.

Penulis pernah dengar jamaah tua nyeletuk, “Saya itu senang ceramah yang apa adanya, benar ya benar, salah ya salah. Tidak membenarkan yang salah demi menyenangkan hati jamaah.”

Yang lain berkata, “Saya ikut kajian ini karena landasannya jelas. Saya tidak senang kajian yang menyenangkan hati manusia meskipun membuat Allah marah. Sampai-sampai ‘Bib’ pengisi kajian ‘tetangga’ itu tanpa malu menyebut alat kelamin bahkan memperagakan adegan sex di hadapan jamaah, hanya demi membuat mereka tertawa.”

Percaya atau tidak, di kajian Salaf itu ada mantan pembunuh bayaran, pelaku riba (mantan bankir, asuransi, dll), ex-preman, pasutri yang hidup kaya tapi gersang, mantan artis, perokok berat, pezina, dll. Tidak semua “mantan orang tidak baik,” tapi banyak.

4⃣ Tapi saya jadi susah dapat tempat di depan!

Kepada yang berkata demikian, penulis sampaikan permohonan maaf atas nama mereka yang baru kembali ke jalan Allah dan ingin mencari ilmu, lalu secara tidak sengaja membuat masjid jadi tidak nyaman.

Hanya saja, jika boleh menyampaikan sebuah ajakan: “Mengapa kita tidak berlomba-lomba dalam kebaikan, mencari shaf terdepan dengan datang lebih awal, kalau perlu sebelum adzan?”
Penulis rasa, jika para pemilik komplek mau berbagi tempat dengan sesama kaum muslimin untuk mencari pahala, tentu akan lebih baik bagi mereka. Bukankah memberi fasilitas untuk orang kembali ke jalan Allah akan berbuah surga bagi pelakunya?
Bukankah shalat berjamaah juga akan berkali lipat ganjarannya dengan semakin banyak jumlah jamaahnya?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صَلاةُ الرَّجُلِ مَعَ الرَّجُلِ أَزْكَى مِنْ صَلاتِهِ وَحْدَهُ ، وَصَلاةُ الرَّجُلِ مَعَ الرَّجُلَيْنِ أَزْكَى مِنْ صَلاتِهِ مَعَ الرَّجُلِ ، وَمَا كَانُوا أَكْثَرَ فَهُوَ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Shalat seseorang bersama satu orang lebih baik daripada shalatnya sendirian. Shalat seseorang bersama dua orang lebih baik daripada shalatnya bersama satu orang. Semakin banyak jumlah jamaahnya, semakin dicintai Allah ‘azza wa jalla.”  (HR. An-Nasai no. 843, Abu Daud no. 554 dan dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah)

5⃣ Sebuah saran

Masyarakat mungkin perlu sesekali mendengar kajian Salafi (1) secara rutin, (2) dengan hati yang netral, (3) membuang sebentar hawa nafsu, pemikiran pribadi dan pergerakan, serta (4) mengedepankan ketundukan terhadap dalil Al-Qur’an dan Sunnah yang disampaikan.

Bisa-bisa setelah itu masyarakat akan jadi hadirin juga seperti orang-orang yang sudah merutinkan jadwal ke Salafi punya kajian.

Jangan khawatir, kajian Salafi itu tidak ada kartu keanggotaan atau iuran bulanan. Cukup meluangkan waktu, bukan menunggu waktu luang.

MUFLIH SAFITRA
Balikpapan, 8 Februari 2018

🎁 #Murottal di Play Store:
https://play.google.com/store/apps/details?id=com.batucamp.mobile.dzikir
📪 Web: http://muflihsafitra.com
📮 Telegram:
https://t.me/murottalmuflihsafitra
https://t.me/muflihsafitrabalikpapan
https://t.me/dzikirmuflihsafitra
📤 Facebook:
https://www.facebook.com/muflihsafitracom/
📦 Instagram:
https://www.instagram.com/muflihsafitracom/
📺 YouTube:
https://www.youtube.com/muflihsafitra

Top