Tanggapan atas (tuntutan menjawab) undangan medsos Ustadz Adi Hidayat

semoga Allah menunjuki kami, beliau dan fans jalan kebenaran

___

بسم الله الرحمن الرحيم

01. MENGAPA DITAHDZIR?

Telah berlalu lebih 1/2 tahun sejak tahdzir dan kritik terbuka Ustadz Abdullah Taslim, Ustadz Firanda Andirja, Ustadz Zainal Abidin, Ustadz Abul Jauzaa dan asatidzah lainnya terhadap Ustadz Adi Hidayat tersebar melalui pelbagai media. Tahdzir tersebut berawal dari beberapa video yang memuat ceramah beliau yang dinilai tidak sejalan dengan manhaj ahlussunnah khususnya dalam masalah aqidah. Contohnya video dengan tema:

  • Cara agar doa diterima
  • Takdir
  • Sifat nuzul Allah
  • Musik
  • Riwayat, lafazh dan nomor hadits yang tidak sama dengan versi pengeceknya
  • Manhaj Salafy MU NU
  • dll.

Mengapa ditahdzir?

  1. Viewer beliau banyak kalangan awam, notabene baru mengaji dan belum benar-benar mengetahui aqidah dan manhaj salafush shalih. Retorika bagi mereka lebih utama ketimbang benar salah kontennya. Dikhawatirkan mereka tidak bisa menyaring mana pendapat yang salah dan yang benar sehingga ikut meyakini aqidah yang jelas menyimpang.
  2. Seorang da’i bisa mendapatkan dosa jariyah bila dia mengajarkan yang salah/menyimpang dan kesalahan itu diikuti orang.
  3. Gimmick bahasa pengulangan kata dan retorika beliau yang seolah jazm ( padahal tidak demikian), membuat asatidzah khawatir beliau dan para mad’u tidak menyadari akan kesalahan.
  4. Banyak ikhwan baru yang mengatakan beliau da’i bermanhaj salaf. Padahal kesalahan yang ada justru karena bertentangan dengan manhaj salafush shalih itu sendiri. Asatidzah yang mentahdzir mungkin tidak berhajat merilis tahdzir jika pemilik videonya adalah dari kalangan da’i artis, da’i pelawak atau da’i lintas profesi. Toh tipikal du’at seperti itu akan hilang dengan surutnya selera penonton dan datangnya da’i sejenis.

Namun ketika sang pengisi dikabarkan seorang da’i Salafy karena punya ceramah tentang Salafy (sudah kami tonton dan menunjukkan pengisinya tidak paham mengapa manhaj salaf itu ada), maka mereka pun bangkit menyingkap video-video syubuhat yang banyak ditonton umat.

Alasan ke-4 ini zhahirnya ada pada asatidzah yang berseberangan dengan beliau. Buktinya kesalahan beliau sebenarnya juga ada pada du’at mantan musisi atau yang dikenal seorang shufiy. Tapi asatidzah nampak tidak bergegas membantah da’i seperti ini.

02. KEINGINAN BERTEMU

Pertengahan April 2017 melalui seorang ikhwan kami berusaha agar bisa bertemu beliau, karena kami ada jadwal mengisi kajian di Bekasi tanggal 20 April 2017. Ustadz Abdullah Taslim pun ketika itu menyanggupi, karena kebetulan pulang umroh. Qaddarallah pertemuan tidak bisa tercapai karena Ustadz Adi juga ada jadwal di New Zealand (kalau tidak salah info). Keinginan bertemu ini karena kami masih menyimpan asa adanya tanashuh dan saling meluruskan jika ada kekeliruan/salah paham. Mungkin saja kami yang tidak mengetahui maksud Ustadz Adi.

03. PERTEMUAN HINGGA BUKU

Kami mendengar dari seorang ikhwan Jakarta bahwa Ustadz Firanda dan Ustadz Adi telah bertemu. Kami berprasangka baik bahwa kedua ustadz telah tafahum dan tabayyun, apapun hasilnya.

Namun seiring waktu, ternyata Ustadz Adi menjawab kritik yang tersebar dengan merilis buku MTKE.

Seorang ikhwan memberikannya kepada kami.

Halaman demi halaman kami baca. Kami dapati di dalamnya banyak sanggahan dari Ustadz Adi yang kami nilai memang hasil missed-communication antar penulis dan pihak yang disanggahnya. Artinya sebagian masalah memang bisa selesai dengan komunikasi verbal, bukan tulisan.

Contohnya:

Screen shot SMS. Ini kami nilai sebagai bentuk miskomunikasi saja. Apalagi diikutcampuri oleh sebagian orang yang memang dikenal di media sosial sebagai plagiat dan tidak punya amanah ilmiah. Maksud Ustadz Adi dan pihak yang berseberangan sangat mungkin jadi bias. Mungkin jika mereka bertemu in syaa Allah selesai.

Selembar demi selembar kami baca hingga bab terakhir yang melegakan. Kami dapati memang disana nampak sekali _gap_ (baca: jurang terjal) antara manhaj Ustadz Adi dengan asatidzah yang berseberangan dengan beliau. Artinya komunikasi verbal sekalipun nampaknya tidak menyelesaikan masalah. Paling tidak, butuh waktu lama dan pertemuan berulang-ulang dilengkapi notulasi pertemuan.

Namun kami lega, karena MTKE menjadi bukti bahwa ini memang masalah manhajiy. Beliau jelas tidak seperti yang diklaim ikhwan baru ngaji.

Selain membuka tabir manhaj penulisnya, MTKE sedikit banyak tercampur bahasan yang tidak nyambung. Nukilan tafsir yang dibawakannya mungkin benar. Tapi nukilan yang dibawakan tidak sinkron dengan maksud ustadz yang sedang dibantahnya. Contoh paling banyak ada pada pembahasan syubuhat “Cara baru dalam berdoa” (MTKE hal. 69).

Ada pula konten yang jauh dari ilmiah dan seolah timbul akibat suuzhan belaka.

Contohnya:

Masalah posisi Ustadz Firanda saat memposting artikelnya, di Jakarta atau Madinah (MTKE hal. 80) yang diulangi lagi di hal. 103. Sebuah pengulangan yang mengindikasikan prasangka yang intentional.

Ini jauh dari ilmiah karena beliau harusnya bisa berbaik sangka untuk urusan teknis. Bisa saja artikel ditulis di Jakarta dan diposting di Madinah atau sebaliknya, lalu penulis lupa mengganti kotanya. Pun setahu kami Ustadz Firanda domisili di Jakarta dan punya seorang admin website yang tinggal di Madinah. Maka sangat mungkin penulisan dan postingan webnya berbeda kota. Itu khilaf yang bisa terjadi apapun isi tulisannya dan siapapun penulisnya.

Kami pun membuat pengantar buku Syarah Ushul Tsalatsah kami di Makkah, namun diedit lagi di Balikpapan. Sementara nama kota sudah terlanjur ditulis. Untungnya ketika editing kami melihatnya. Bila tidak, pembaca yang tidak berbaik sangka bisa menuduh kami berdusta.

Tidak ketinggalan pula standar ganda. Beliau jelas sangat keberatan ketika dituduh peminat popularitas (MTKE hal. 133). Tapi beliau tampaknya tidak ragu melempar batu dengan tangan orang, ketika pendukung wanitanya melontarkan tuduhan serupa kepada lawannya, bahkan dimuat dalam MTKE hal. 184 dengan bahasa kasar menjijikkan: Bini’ 3 penghasilan seret kalah pamor.

Sisanya, MTKE jadi lebih terasa seperti buku tidak ilmiah ketika typo (salah ketik) VEDIO oleh Ustadz Zainal Abidin dibahas penulis berulang-ulang di beberapa tempat, seolah tak satu typo-pun ada dalam MTKE. Typo itu biasa. Ustadz Adi pun pasti pernah melakukannya. Rasanya sangat tidak perlu kami mengulas panjang lebar tentang EYD, struktur kalimat bahkan titik koma hanya demi meruntuhkan manhaj seorang Ustadz Adi Hidayat.

04. MANHAJ BELIAU SEMAKIN KELIHATAN

Giliran kami yang mendapati di berbagai media sosial, video-video beliau yang memperlebar gap manhaj yang kami sebut di poin 3.

Misalnya video tentang:

  • Sifat istiwa’ Allah di atas ‘Arsy (telah dibantah dengan tulisan oleh sebagian asatidzah)
  • Legalisasi perayaan Maulid Nabi dalam bentuk ceramah dan mengqiyaskan peringatan Maulid Nabi dengan Mushaf Al-Qur’an dan jasad hadirin (sudah kami sanggah disini: https://youtu.be/0opq-4vdxCo).
  • Klaim bahwa Nabi sama sekali tidak pernah shalat tahiyyatul masjid seumur hidup (telah kami bahas disini https://youtu.be/GFoauho_VuE).

Kesemua video yang semakin memperjelas manhaj pengisinya itu bukan sengaja kami kulik dalam rangka mencari kesalahan beliau. Kami mendapatinya secara tidak sengaja karena begitu banyak yang video beliau berseliweran di social media.

Bersama asatidzah lainnya kami mulai ikut membantah sebagian isi videonya.

05. TUDUHAN JAMAAH

Mulai berseliweran di beranda media sosial kami hujatan, celaan dan tuduhan dari para fans Ustadz Adi. Sebagian mereka berkata kami me-radd Ustadz Adi karena hasad terhadap popularitas. Ini tidak perlu kami tanggapi. Allah lebih tahu hati kami yang hanya bisa berdoa agar Dia menjauhkannya dari ketamakan dunia.

Sebagian lagi berkata kami takut bertemu Ustadz Adi padahal dibiayai transportasi dan akomodasi. Ini tuduhan yang salah. Semoga mereka tidak menganggap ini pertandingan tinju.

Kami katakan:

  1. Kami pernah berusaha bertemu beliau bulan April 2017 namun jadwal tidak pas.
  2. Perbedaan manhajiyyah antara kedua pihak yang tercermin dari MTKE, meyakinkan kami bahwa tatap muka sekalipun mungkin tak akan ada ujungnya karena masing-masing akan mempertahankan keyakinan sesuai manhajnya.

Karena itu, butuh ahli ilmu untuk menjadi penengahnya.

06. PERTEMUAN YANG MUNGKIN BISA BERUJUNG KEBAIKAN

Jika Ustadz Adi ingin adanya pertemuan yang bisa menemukan titik kebenaran, maka kami informasikan bahwa in syaa Allah Januari 2018 yang akan datang Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaily datang ke Indonesia. Beliau seorang profesor bidang aqidah di Universitas Islam Madinah. Termasuk jajaran ahli ilmu pengajar Masjid Nabawi.

Kita bisa diskusi dengan beliau sebagai penengah, mengingat beliau ahli dalam masalah aqidah yang kita perselisihkan. In syaa Allah kita akan mendapatkan titik terang.

Jika ada panitia yang membaca tulisan ini, semoga kami diberi waktu untuk bertemu dengan Syaikh.

07. PERTEMUAN YANG MUNGKIN TIDAK AKAN SELESAI

Jika Ustadz Adi ingin bertemu tanpa ditengahi ahli ilmu, maka kami beritahukan bahwa kami telah mengajak Ustadz Abdullah Taslim, Ustadz Zainal Abidin dan Ustadz Badrusalam untuk bertemu Ustadz Adi. Ketiganya merespon dengan cepat berisi persetujuan untuk bertemu beliau.

Kedua nama pertama adalah yang awal merilis tahdzir. Nama terakhir kami tahu sejak lama tidak keberatan bertemu dan tanashuh tetapi mungkin ketika itu belum ada jalannya.

Ustadz Adi bisa membawa pendamping dan seorang notulen. Namun, kami persyaratkan untuk tidak mengajak pendamping yang tipikalnya kasar dan tidak amanah dalam menukil (misalnya salah satu informan beliau yang namanya disebut dalam MTKE), dalam rangka menjaga kondusifitas diskusi.

Soal transportasi dan akomodasi kembali ke Ustadz Adi, apakah perlu disediakan atau tidak, mengingat pertemuan hanyalah di sekitar Jakarta. Apalagi melihat undangan terbuka Ustadz Adi dengan hadiah umroh VVIP, beliau tampak bersemangat bersedekah.

08. KOK TERTUTUP?

Ustadz Adi dalam MTKE hal. xxi mempertanyakan ajakan dialog dalam pertemuan tertutup.

Kami pun sebenarnya bisa saja mempertanyakan kenapa harus di markas beliau, seolah kami yang berkepentingan untuk diluruskan. Kami mengkritik demi umat, bukan semata demi beliau.

Kami mengajak beliau bertemu bukan di pusat dakwah beliau, bukan pula di pusat dakwah kami. Ini dalam rangka menghindari fitnah akibat ulah oknum tidak amanah dalam menukil berita. Kami ingin antisipasi nukilan yang beredar setelah diskusi tidak seperti kejadian asli.

Apalagi kita hidup di zaman now: Sebagian orang tidak amanah dengan hasil jepretan foto yang multi tafsir. Diskusi Ustadz Yazid di Samarinda, Ustadz Firanda di Batam, dll menjadi pelajaran bagi kami untuk lebih berhati-hati.

Perlu juga Ustadz Adi sedikit turun ke bumi, kalau perlu menyelam lebih dalam lagi, agar bisa mengerti pentingnya netralitas dan kerendahan hati dalam mengundang orang, terutama mengingat pihak yang berseberangan rata-rata jauh lebih tua usianya. Mungkin ini bukan masalah yang esensial tetapi cukup penting untuk direnungkan Ustadz Adi.

09. UNTUK IKHWAN PRO DAN KONTRA

Kami perlu mengingatkan, baik kepada yang pro maupun kontra:

  1. Jaga diskusi dari kata-kata jorok atau menghina fisik karena kita sudah dewasa dan mengenal agama. Ini terutama kami tujukan kepada ikhwan yang berseberangan dengan Ustadz Adi karena jangan sampai tahdzir ini jadi terkotori dan tidak ilmiah lagi karena sebab terselip caci maki. Ibarat biji cabai yang menempel di gigi.
  2. Jangan jadi dukun yang mengklaim dirinya tahu segalanya bahkan isi hati orang. Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma dimarahi Nabi ketika ia membunuh orang yang mengucapkan Laa ilaaha illallah lantaran menduga orang itu mengucapkannya karena takut pedang. Jangan tuduh baik kami maupun Ustadz Adi pada sesuatu yang tersimpan dalam dada kami. Serahkan itu kepada Allah yang Maha Mengetahui.

10. UNTUK PARA DA’I

  1. Dakwah bukan hanya amar ma’ruf tapi juga nahi munkar. Jangan alergi terhadap kritik pemikiran menyimpang karena itu termasuk jihad di jalan Allah untuk menyelamatkan umat dari paham yang menyeberangkan mereka dari Al-Qur’an dan Sunnah sebagaimana yang dipahami salafush shalih.Hanya saja perlu menimbang-nimbang kapan kita mengkritik pemikiran menyimpang dengan menyebut nama dan kapan sekedar membantah penyimpangannya. Kita perhatikan mashlahat madharatnya.
  2. Jika ada pemikiran menyimpang yang menyebar luas, tidak ada salahnya bahkan in syaa Allah berpahala jika dibantah, diluruskan dengan niat untuk menjaga agama Allah.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وأصحابه أجمعين

وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Balikpapan, 23 Rabi’ul Awwal 1439 H

Muflih Safitra

Top