Terlambat Berjama’ah, tapi Tetap Sesuai Sunnah?!

Segala puji hanya untuk Allah, Rabb semesta alam, shalawat dan salam semoga tercurah bagi Muhammad Rasulillah, para sahabat dan pengikutnya.

Lewat tulisan ini, kami sampaikan fawaid (beberapa faidah) dari kajian Syaikh Muhammad Mukhtar Asy-Syinqithy[1] yang dapat kita amalkan saat terlambat shalat berjamaah di masjid[2].

Fawaid ini disimpulkan dari hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
إذا أقيمت الصلاة فلا تأتوها وأنتم تسعون وائتوها وعليكم السكينة، فما أدركتم فصلوا، وما فاتكم فأتموا
“Jika shalat telah didirikan (terdengar iqamat), maka janganlah mendatanginya dengan berlari (tergesa-gesa). Dan datangilah shalat itu dengan berjalan dengan tenang. Apa yang kamu dapati dari imam, maka shalatlah (kerjakanlah sepertinya), dan apa yang terlewatkan darimu maka sempurnakan.”[3]

Beberapa faidah tersebut antara lain:

Pertama,
Shalat dianggap telah didirikan dengan terdengarnya kalimat pertama dari iqamat.

Kedua,
Dilarang mendatangi masjid (shalat jamaah) dengan berlari-lari atau berjalan dengan tergesa-gesa[4]. Hal ini berdasarkan sabda Beliau: ” فلا تأتوها وأنتم تسعون ” (…maka janganlah mendatanginya dengan tergesa-gesa). As-sa’yu disini bermakna berlari atau berjalan dengan sangat cepat.

Ketiga,
Kalimat “فصلوا “(shalatlah!) mengandung beberapa makna, di antaranya:

  1. Orang yang terlambat ikut shalat berjamaah dan mendapati imam sedang duduk atau sujud, tidak diperbolehkan baginya untuk menunggu hingga imam berdiri, lalu bertakbir dan ikut shalat, sebagaimana yang dikerjakan oleh banyak orang. Akan tetapi, yang harusnya ia kerjakan adalah langsung bertakbir lalu mengikuti gerakan imam, baik sujud, duduk tasyahhud, atau gerakan lainnya. Hal ini berdasarkan sabda Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam: ” فما أدركتم فصلوا” (…apa yang kamu dapati (dari imam), maka shalatlah (kerjakan sepertinya)).
    Masalah: katakanlah ia masuk jama’ah ketika imam telah berada pada rakaat kedua. Apakah rakaat yang ia kerjakan dihitung sebagai rakaat pertama (sesuai kondisinya), ataukah rakaat kedua (sesuai kondisi imam)? Hal ini akan dibahas pada faidah keempat.
  2. Bagi orang yang terlambat ikut shalat jenazah dan mendapati imam telah bertakbir dengan takbir kedua atau setelahnya, maka hendaknya dia bertakbir lalu ikut shalat bersama imam.
    Masalah: anggaplah ia masuk ketika imam telah berada pada takbir ketiga. Apakah takbir pertamanya dihitung sebagai takbir pertama (sesuai kondisinya) sehingga dia harus membaca Al-Fatihah, ataukah dihitung sebagai takbir ketiga (sesuai kondisi imam) sehingga dia harus ikut membaca doa bagi mayyit? Hal ini pun kembali kepada faidah keempat yang akan kami sebutkan nanti.
  3. Bagi orang yang terlambat masuk shalat jamaah, maka hendaklah dia langsung masuk dan mengikuti jamaah, walau hanya sekedar duduk sesaat menjelang salam. Dan ini adalah pendapat yang rajih (lebih kuat) dari pendapat para ulama, seputar masalah: apakah lebih baik baginya untuk ikut berjamaah walau sekedar duduk sesaat, ataukah dia berjamaah dengan orang-orang yang terlambat bersamanya[5].
    Hal ini dikuatkan dengan beberapa hal:
    a) Jamaah pertama lebih utama daripada jamaah yang berikutnya[6].
    b) Pahala orang yang ikut shalat berjamaah sudah dilipatkan hingga 25 atau 27 derajat[7] dengan semata-mata keluar dari rumahnya untuk shalat berjamaah (bersama jamaah pertama –pen).
    c) Semakin banyak jumlah jamaah semakin disukai Allah[8].

Keempat,
Hadits yang sedang kita bahas ini diakhiri dengan lafazh “فأتموا” (…maka sempurnakan!). Perlu diketahui bahwa terdapat pula riwayat lain yang senada dengan hadits ini. Hanya saja riwayat kedua diakhiri dengan lafazh “فاقضوا” (…maka tunaikan!).

Perbedaan lafazh ini memiliki konsekuensi perbedaan pendapat dalam masalah: apakah makmum yang terlambat harus shalat sesuai kondisinya (rakaat pertama), ataukah kondisi imam (rakaat imam)?

Begitu pula pada shalat jenazah: apakah makmum yang terlambat harus bertakbir sesuai kondisinya (takbir pertama dan membaca Al-Fatihah), ataukah kondisi imam (takbir dan bacaan mengikuti imam)?

Riwayat “…maka sempurnakan!” berarti ia hitung rakaat, takbir dan bacaan tersebut sesuai kondisinya, sedangkan riwayat “…maka tunaikan!” berarti ia sesuaikan dengan kondisi imam. Dalam masalah ini riwayat pertama lebih kuat untuk diamalakan, karena lebih banyak dalam sisi periwayatan[9].

Demikian apa yang dapat kami tuliskan. Semoga Allah menjadikan tulisan ini sebagai sarana dakwah yang ikhlas untuk agama-Nya dan menambah faedah ilmu bagi saudara-saudara kami yang membacanya.

Riyadh, Sabtu, 25 Jumadil Ula 1434 H (6 April 2013)
Muflih Safitra bin Muhammad Saad Aly
——————————————–
Catatan kaki:
[1] Beliau adalah salah satu Ulama Saudi Arabia, pengajar rutin di Masjid Nabawi, sekaligus anggota Hai-ah Kibaril Ulama.

[2] Fawaid ini kami catat dari kajian bulanan Beliau di Riyadh, tanggal 7 Rabiuts Tsani 1434 H, ketika membahas Kitab ‘Umdatul Fiqh, Bab Adab Berjalan Menuju Shalat (Masjid). Kami hanya menyebutkan fawaid yang berkaitan dengan hadits yang kami kutip di atas, sehingga tidak mencakup seluruh yang Beliau sampaikan dalam kajian tersebut. Jika ingin mendapatkan fawaid yang lebih banyak daripada yang kami tulis secara ringkas pada artikel ini, pembaca dapat mendengarkan rekamannya (silakan unduh pada link berikut: http://www.shankeety.net/Alfajr01Beta/) –pen.

[3] HR. Bukhari no. 635 dan Muslim no. 603

[4] Banyak orang di zaman ini, manakala mengetahui imam telah bertakbir untuk ruku’ (misalkan: ia mendengar takbir imam lewat pengeras suara, atau ia melihat imam telah ruku’ dari arah pintu masjid), mereka pun segera berlari menuju shaf jama’ah. Hal ini mereka lakukan karena takut terlambat dan ingin mendapatkan satu rakaat bersama imam, karena memang terdapat hadits dan atsar sahabat tentang terhitungnya satu rakaat dengan tepat ruku’ bersama imam. Kami tidak mengingkari tentang terhitungnya satu rakaat dengan ruku’ bersama imam, karena ini diamalkan oleh banyak sahabat seperti Abdullah bin Mas’ud dan Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhum. Namun perlu diketahui, bahwa ini tidak berarti kita dibolehkan mengejar ruku’nya imam agar mendapat satu rakaat, dengan berlari tergesa-gesa. Bahkan, bisa jadi ini menunjukkan kemalasan seseorang dalam melaksanakan shalat, karena ia terkesan berat menyempurnakan satu rakaat yang terlewat, hingga ia pun ‘semangat’ berlari agar tidak terlambat –pen.

[5] Dalam masalah ini, kami mendengar Syaikh Saad Asy-Syitsriy, Syaikh Shalih Fauzan dan Syaikh Muhammad Mukhtar Asy-Syinqithy hafizhahumullah, menyebutkan beberapa pendapat:
1) Yang afdhal adalah masuk langsung bersama jama’ah pertama walau hanya sekedar duduk sebentar, berdasarkan dalil yang dikemukakan Syaikh Muhammad Mukhtar pada tulisan ini.
2) Lebih baik menunggu jama’ah yang kedua. Hal ini dikarenakan seseorang terhitung shalat berjama’ah jika ia shalat minimal satu rakaat bersama imam. Sementara, seseorang dikatakan telah mendapat satu rakaat jika ia sempat ruku’ bersama imam. Karenanya, sekedar duduk sebentar tidak terhitung satu rakaat dan shalat berjama’ah.
3) Silakan memilih di antara keduanya, baik ikut dalam jama’ah maupun menunggu lalu berjamaah dengan orang yang terlambat, karena masalah ini luas dan kedua pendapat kuat.

[6] Berdasarkan hadits dari sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu:
سألت رسول الله صلَّى اللهُ عليه وسلَّم أيّ العمل أفضل؟ قَال: الصّلاة على وقتها. قلْت ثمّ أيّ؟ قَال: برّ الْوالديْنِ. قلت ثمّ أيّ؟ قَال: الْجهاد في سبيل الله
“Aku bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Amalan apakah yang paling utama?” Beliau menjawab, “Shalat pada waktunya.” Aku bertanya lagi, “Lalu amal apa lagi?” Beliau menjawab, “Berbakti kepada kedua orang tua.” Aku bertanya lagi, “Lalu amal apa lagi?” Beliau menjawab, “Jihad di jalan Allah”.” [HR. Bukhari dan Muslim]

[7] Berdasarkan hadits dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:
صلاة الرجل في الجماعة تُضَعَّفُ على صلاته في بيته وفي سوقه خمسة وعشرين ضعفا ، وذلك أنه إذا توضأ فأحسن
الوُضوء ثم خرج إلى المسجد لا يخرجه إلا الصلاة ، لم يَخطُ خطوة إلا رفعت له بها درجة وحُطّ عنه بها خطيئة ، فإذا صلى لم تزل الملائكة تُصلي عليه ما دام في مصلاه : اللهم صلِّ عليه ، اللهم ارحمه ، ولا يزال في صلاة ما انتظر الصلاة .
“Shalat seseorang bersama jama’ah dilipatgandakan pahalanya dibandingkan shalatnya di rumah dan pasarnya sebanyak 25 kali lipat. Demikian itu apabila ia berwudhu dan memperbagus wudhunya, kemudian ia keluar menuju masjid dan tidaklah ia keluar kecuali untuk mengerjakan shalat berjama’ah, maka tidaklah ia melangkah, kecuali satu langkahnya akan mengangkat derajatnya dan langkah yang lain menghapus kesalahannya. Manakala ia shalat, malaikat pun senantiasa mendoakannya sepanjang ia berada di tempat shalatnya, (malaikat berdoa), “Ya Allah, berikanlah kebaikan atasnya. Ya Allah, rahmatilah dia”. Dan ia dikatakan tetap berada dalam shalat selama ia menunggu shalat (berikutnya)”.” [HR. Bukhari dan Muslim]

[8] Berdasarkan hadits dari sahabat Abu bin Kaab radhiyallahu ‘anhu:
وصلاة الرّجل مع الرّجل أزكى من صلاته وحده وصلاة الرّجل مع الرّجلين أزكى من صلاته مع الرّجل وما كانوا أكثر فهو أحبّ إلى الله عزَّ وجلّ
“Shalat seseorang bersama satu orang yang lain lebih baik daripada shalatnya sendirian. Dan shalatnya bersama dua orang lebih baik daripada shalat bersama satu orang. Semakin banyak yang shalat bersamanya semakin disukai Allah ‘azza wa jalla.” [HR. Abu Dawud dan An Nasa’i, dan dihasankan Syaikh Al-Albani dalam Shahih Abu Daud]

[9] Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz rahimahullah berpendapat bahwa riwayat “فأتموا ” lebih banyak periwayatannya, sehingga riwayat ” فاقضوا ” dapat ditafsirkan dengan makna riwayat “فأتموا ” (maknanya tidak bertentangan sehingga keduanya dapat diamalkan). Hal ini sebagaimana tafsir “menunaikan” dengan makna “menyempunakan” dalam firman Allah ‘azza wa jalla dalam surat An-Nisaa ayat 103:

فإذا قضيتم الصّلاة فاذكروا اللّه

Maka orang yang terlambat masuk dalam jama’ah, rakaat yang sedang dikerjakan imam merupakan rakaat pertamanya. Apa yang dia tunaikan setelah salamnya imam adalah penyempurna shalatnya (rakaat berikutnya). [Majmu’ Fatawa wa Maqaalaat Mutanawwi’ah jilid 25] –pen.
Begitu pula pada masalah orang yang terlambat shalat jenazah hingga terlewatkan sebagian takbirnya. Di takbir manapun imam berada, ia tetap melakukan takbir pertama diikuti dengan membaca Al-Fatihah. Manakala imam telah salam, maka dia menambah takbir yang kurang beserta bacaannya.

Contoh: jika ia ikut shalat jenazah ketika imam masuk takbir ketiga dan membaca doa bagi mayyit, maka ia bertakbir dan membaca Al-Fatihah. Ketika imam bertakbir yang keempat, maka ia bertakbir lalu membaca shalawat. Setelah imam salam, ia takbir yang ketiga lalu membaca doa, kemudian takbir yang keempat lalu salam. [Majmu’ Fatawa wa Rasail asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz jilid 13] –pen.

Kami juga mendengar Syaikh Saad Asy-Syitsriy, seorang Ulama besar dan ma’ruf di Saudi, dalam tanya jawab kajian harian kitab Dalil ath-Thalib bersama beliau, tanggal 29 Syawwal 1432 H, menukil perkataan sebagian ahli fiqih, bahwa orang yang terlambat shalat jenazah, hendaknya ia bertakbir dan menyesuaikan bacaan dengan kondisi imam. Artinya, misalkan ia masuk dalam takbir ketiga, maka hendaknya dia membaca doa dan bukan membaca Al-Fatihah, karena menyesuaikan bacaan imam. Manakala imam telah salam, maka ia sempurnakan takbir yang kurang (yaitu takbir pertama beserta bacaan Al-Fatihah dan seterusnya). Adapun jika sudah sangat terlambat dan khawatir jenazah akan segera diangkat sebelum selesai shalatnya, maka cukup baginya bertakbir secara berturut-turut (tanpa bacaan) lalu salam –pen.
Masalah ini luas, setiap orang bisa mengamalkan salah satunya dan berlapang dada kepada orang yang mengamalkan pendapat lainnya.

Top