Titip air mata untuk kita juga

Jika kau berduka atas wafatnya guru dan orangtua kita, Ustadz Abu Saad -semoga Allah merahmatinya- maka…

Seka sebentar air matamu.
Aku pun begitu.

Menangis sebenarnya tak apa.
Tapi -maaf kalau keliru- sematkan senyum untuknya dan titipkan air mata itu untuk kita juga…

Senyum untuknya?
Ustadz Abu Saad, in syaa Allah, wafat dalam jihad di jalan-Nya. Beliau wafat dalam rangkaian dakwah.
Semoga aku tak salah menempatkan hadits ini:
مَنْ جَاءَ مَسْجِدِى هَذَا لَمْ يَأْتِهِ إِلاَّ لِخَيْرٍ يَتَعَلَّمُهُ أَوْ يُعَلِّمُهُ فَهُوَ بِمَنْزِلَةِ الْمُجَاهِدِ فِى سَبِيلِ اللَّهِ
“Siapa yang mendatangi masjidku, yang ia mendatanginya karena ingin mempelajari ilmu atau mengajarkannya, maka kedudukannya seperti seorang yang berjihad di jalan Allah.” (HR. Ibnu Majah)

Maka, aku pribadi tidak banyak mengkhawatirkan dirinya.
Aku tidak berani memastikan soal surga. Tapi beliau pantas didoakan agar mendapatkannya.
Semoga dakwah beliau selama ini yang kita juga menikmatinya, ikhlas karena Allah semata, memperberat timbangan kebajikannya dan menjadi sebab dia masuk surga.

Air mata itu untuk kita?
Kita berdua sama-sama tidak tahu apakah akhir hidup kita juga dalam suasana jihad seperti Ustadz Abu Saad ataukah sebaliknya.

Tapi kita berdua pantas meminta.
Semoga Allah memberi kita keistiqomahan di atas agama sampai giliran kita tiba.

Maaf jika salah. Aku menyampaikan ini karena mencintaimu karena-Nya…

Saudaramu di Balikpapan…

Top