Tukar foto untuk ta’aruf

Bolehkah saat proses ta’aruf (perkenalan dengan calon suami/istri) saling tukar foto, untuk mengenali wajahnya dan memantapkan pilihan?
(Pertanyaan dalam sesi tanya jawab kajian “Sejak Memilih, Meminang Hingga Menikah” bersama Ustadz Muflih Safitra di Masjid Namirah, Balikpapan).

Jawab:
Tidak boleh walaupun untuk memantapkan pilihan, karena:
#Memandangi wajah lawan jenis yang bukan mahram secara sengaja dan berulang kali adalah jalan menuju keburukan lain akibat pandangan dan hawa nafsu.
Allah berfirman,
“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, hendaklah mereka menundukkan pandangannya dan menjaga kemaluannya.” (QS. An-Nuur: 30)
“Katakanlah kepada wanita yang beriman, hendaklah mereka menundukkan pandangannya dan menjaga kemaluannya.” (QS. An-Nuur: 31)

#Foto di zaman ini sarat penipuan dan rekayasa, apalagi setelah banyak muncul aplikasi komputer dan HP yang bisa mengubah wajah asli menjadi cantik atau ganteng, wajah kasar menjadi halus, tua menjadi muda, dengan hanya sentuhan jari.

#Ketika foto jatuh di tangan lawan jenis –khususnya foto akhwat jatuh di tangan lelaki– sangat memungkinkan disalahgunakan, seperti ditaruh di dompet, diupload di media sosial (untuk dipamerkan) dan bahkan dijadikan bahan memuaskan hawa nafsu. Penulis pernah memergoki seorang ikhwan tidur terlentang dan tersenyum-senyum sambil memandangi foto akhwat yang jadi lawan ta’arufnya. Ternyata pun si akhwat tidak jadi menikah dengannya.

#Foto tidak mampu merepresentasikan wajah asli calon suami/istri secara akurat. Bisa jadi di foto si akhwat terlihat kecil, padahal aslinya gemuk besar. Sementara itu si ikhwan ternyata laki-laki yang sangat kurus.

Karenanya kami nasehatkan terutama kepada para akhwat, jangan sekali-kali menyerahkan foto kepada orang yang bukan mahram, sekalipun itu calon pasangan hidup, yang belum tentu juga menikah dengan anda, demi mencegah kerusakan dan fitnah syahwat yang timbul karena godaan setan, dimulai dari memandangi lawan jenis dengan cara yang tidak halal.

Jika memang serius ingin menikah, maka cukup dengan biodata awal yang detail. Jika berdasarkan biodata itu ta’aruf bisa dilanjutkan, maka si ikhwan bisa datang kepada orangtua/wali si akhwat untuk membicarakan hal-hal lain secara mendalam. Jika saat ta’aruf lanjutan dirasa cocok, maka bisa diteruskan dengan nazhar (melihat langsung calon pasangan). Saat itulah pandangan terhadap calon dihalalkan.

Wallahu a’lam.

Top