Tukar uang sesama pedagang 50 ditukar 45, 5 menyusul, halalkah?

Terkadang pedagang membutuhkan uang pecahan kecil (1,000, 2,000, 5,000, dst) untuk memberi kembalian kepada pelanggan yang membawa uang pecahan besar (50,000 dan 100,000).

Mereka biasanya datang ke pedagang lain untuk menukar uang besar dengan uang kecil. Hanya saja, pedagang lain kerap kali tidak memiliki uang yang cukup sebagai tukaran.

Contoh kasus:
Udin seorang pedagang sayur. Suatu pagi pelanggan datang membeli sayur 5,000 menggunakan uang pecahan 50,000. Karena masih terlalu pagi dan belum memiliki uang kecil, dia menukarkan uang 50,000 tersebut kepada Aco dengan uang pecahan 5,000 dan 10,000. Ternyata, Aco hanya memiliki 45,000. Ia pun menyerahkan 45,000 yang dimilikinya dan tersisa 5,000.
Halalkah yang seperti ini?

Pertama-tama perlu diketahui bahwa tukar menukar uang dengan mata uang yang sama harus memenuhi 2 (dua) syarat, yaitu (1) tunai/cash/kontan dan (2) setara/sama jumlahnya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لَا تَبِيعُوا الذَّهَبَ بِالذَّهَبِ إِلَّا مِثْلًا بِمِثْلٍ وَلَا تُشِفُّوا بَعْضَهَا عَلَى بَعْضٍ وَلَا تَبِيعُوا الْوَرِقَ بِالْوَرِقِ إِلَّا مِثْلًا بِمِثْلٍ وَلَا تُشِفُّوا بَعْضَهَا عَلَى بَعْضٍ وَلَا تَبِيعُوا مِنْهَا غَائِبًا بِنَاجِزٍ
Janganlah kalian berjual beli emas dengan emas kecuali setara jumlahnya dan jangan kalian lebihkan yang satu atas lainnya. Janganlah kalian berjual beli perak (uang kertas) dengan perak (uang kertas) kecuali setara jumlahnya dan jangan kalian lebihkan yang satu atas lainnya. Jangan pula kalian berjual beli yang tunai dengan yang ditangguhkan.” (HR. Al-Bukhari no. 2031, Muslim no. 2964)

Tukar menukar uang rupiah dengan rupiah jika tidak tunai disebut riba nasi-ah dan jika tidak setara disebut riba fadhl. Keduanya diharamkan. Allah berfirman,
يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ ۗ
“Allah mengharamkan riba dan menyuburkan sedekah.” (QS. Al-Baqarah: 276)

Pembaca dapat membuka berbagai buku fiqih bab muamalah atau menyimak berbagai kajian tentang riba untuk mengetahui bahaya dan ancaman dosanya (video kajian penulis bisa ditonton di facebook:
https://www.facebook.com/muflihsafitracom/).

Dalam kasus tukar uang 50,000 dengan 45,000 di atas, ada dua kemungkinan:

Pertama: 5,000 disepakati tidak dibayarkan. 

Kedua pedagang bertransaksi tukar uang dengan selisih dan dianggap keuntungan atau jasa.
Jadi 50,000 ditukar 45,000 dan 5,000 sisanya tidak disusulkan sama sekali.
Yang demikian hukumnya haram karena tidak memenuhi syarat setara. Transaksi ini termasuk riba fadhl.

Kedua: 5,000 terutang. 

Artinya, kedua pedagang bersepakat 5,000 yang tersisa akan dibayarkan menyusul setelah pedagang kedua memilikinya.
Ini diperbolehkan dan tidak termasuk riba. Adanya uang 45,000 yang dibayarkan telah memenuhi syarat tunai sehingga tidak termasuk riba nasi-ah. 5,000 yang tersisa dianggap qardh (utang) yang tetap akan dibayarkan, sehingga memenuhi syarat setara.

Ini sebagaimana yang penulis dengar ketika permasalahan di atas penulis tanyakan kepada Syaikh Sa’ad Asy-Syatsriy hafizhahullah.

Kesimpulan:
Tukar uang 50,000 dengan 45,000 halal jika 5,000 dibayarkan menyusul (utang).
___________________
🎁 Murottal di Play Store:
http://bit.ly/2zkvU4u
📪 Web: http://muflihsafitra.com
📮 Telegram:
https://t.me/murottalmuflihsafitra
https://t.me/muflihsafitrabalikpapan
https://t.me/dzikirmuflihsafitra
📤 Facebook:
https://www.facebook.com/muflihsafitracom/
📦 Instagram:
https://www.instagram.com/muflihsafitracom/
📺 YouTube:
https://www.youtube.com/muflihsafitra

Top